Senin, 28 Mei 2012

KEPRIBADIAN MUSLIM DAN CIRI CIRINYA


BAB1
PENDAHULUAN
  1. Latara Belakang
               Kepribadian adalah sesuatu yang pasti terdapat dalam diri setiap manusia, baik manusia itu beragama maupun tidak. Secara umum kepribadian terdapat dalam diri setiap individu yang normal. Sedangkan orang yang tidak normal kepribadiannya tidak tertentu dan tidak dapat diamati secara pasti, walaupun pada dasarnya setiap kepribadian itu dapat diamati melalui gejala-gejala yang tampak.
Pada ilmu psikologi kepribadian dibahas dalam kajian ilmu yang termasuk bagian dari psikologi secara tersendiri. Maka hal itu memunculkan ilmu baru yaitu psikologi kepribadian. Kemudian dalam psikologi pendidikan Islam juga dibahas kepribadian orang Islam atau dapat dikatakan kepribadian orang menurut pandangan atau sudut pandang agama Islam Ketika anak didik masuk sekolah dasar, dalam jiwa anak tersebut telah membawa bekal rasa agama yang terdapat dalam kepribadiannya, dari orang tuanya dan dari gurunya, semasa di taman kanak-kanak. Andai kata didikan agama yang diterima dari orang tua di rumah sejalan dan serasi apa yang diterima dari gurunya di taman kanak-kanak maka ia masuk sekolah dasar telah membawa dasar agama yang kuat dan bulat (serasi) akan tetapi, jika berlainan maka yang dibawanya adalah keragu-raguan, karena ia belum dapat memikirkan mana yang benar.
Di dalam lembaga pendidikan yang menjadi pusat adalah guru, karena anak didik akan menyerap apa yang ia lihat dan ia dengar, serta perilaku gurunya. Apalagi anak didik belum mampu berfikir dan masih abstrak, disamping itu juga kemampuannya sangatlah terbatas. Seperti halnya guru yang jauh dari agama, ia biasanya berbicara tidak sopan suka menghardik, tingkah lakunya yang tidak sesuai dengan apa yang harus ia ajarkan kepada anak didiknya. Guru yang demikian akan membuat menjadi rusak akhlaknya.
Adapun dalam hal ini, guru berperan sebagai pendidik maupun sebagai pembina dan pembentuk perilaku keagamaan anak didik yang dapat terwujud dalam bentuk kegiatan seperti halnya latihan-latihan keagamaan yang menyangkut akhlak siswa yakni yang berhubungan antara manusia satu dengan manusia lainnya. Pada usia sekolah dasar, anak-anak sedang mengalami pertumbuhan kecerdasan yang sangat cepat, daya khayal dan fantasi yang sangat tinggi, perasaan khayal yang sedang subur dan kemampuan untuk berpikir logis sedang dalam pertumbuhan yang sangat subur. Oleh karena itu, di dalam lembaga pendidikan guru merupakan orang tua siswa.
Sehingga guru harus mengetahui pembentukan kepribadian yang benar menurut al-Qur’an dan sesuai dengan ajaran Islam. Maka dari itu, penulis berusaha mengumpulkan teori dari Islam tentang kepribadian, yang penulis sinkronkan dengan teori dari Barat, untuk mengintegrasikan antara kedua teori tersebut. Untuk itu penulis akan menyusun sebuah tulisan yang berjudul "Kepribadian Muslim dan Ciri-Cirinya" yang penulis kumpulkan dari berbagai referensi yang ada.

  1. Rumusan Masalah
a.       Bagaimana pengertian kepribadian?
b.      Bagamaimana pendekatan dalam psikologi kepribadian?
c.       Bagaiamana struktur kepribadian muslim?
d.      Bagaimana integrasi kepribadian muslim?
  1. Tujuan Pembahasan
a.       untuk mengetahui pengertian kepribadian?
b.      Untuk mengetahui pendekatan dalam psikologi kepribadian?
c.       Untuk mengetahui struktur kepribadian muslim?
d.      Untuk mengetahui integrasi kepribadian muslim
e.       Untuk mengetahui ciri kepribadian muslim?


BAB II
PEMBAHASAN
  1. Kepribadian Muslim
Kata kepribadian dalam kamus bahasa Indonesia bermakna sifat hakiki yang tercermin dalam sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakan dirnya dari orang lain atau bangsa laian[1]. Dalam bahasa inggris disebut personality yang diterjmahkan dalam bahasa Indonesia menjadi kepribadaian.
Dari segi etimologi, kepribadian terjemahan dari kata personality (bahasa Inggris) yang berasal dari bahasa Yunani kuno prosopon atau persona, yang artinya ‘topeng’ yang biasa dipakai artis dalam teater.[2] yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain yang sering dipakai oleh pemain-pemain yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak atau pribadi seseorang. Hal ini oleh karena terdapat ciri-ciri yang khas yang hanya dimiliki oleh seseorang tersebut baik dalam arti kepribadian yang baik, maupun yang kurang baik.
Dalam kamus psikologi yang ditulis oleh james P.chaplin ia menyebutkan beberapa pengertian kepribadian dari tokoh kejiwaan diantaranya[3]:
G. Alport mengartikan kepribadian sebagai organisasi dinamis dalam individu yang terdiri dari system psikofisik yang menentukan tinggah laku dan pikiran secara karekteristik.
R.B. cattel mengartikan kepribadian sebagai segala sesuatu yang memungkinkan satu peranan dari apa yang akan dilakukan seseorang dalam situasi tertentu.
Murray mengartikan kepribadian sebagai kesinambungan bentuk bentuk dan kekuatan kekuatan yang di nyatakan …….dari proses yang berkuasa dan teroganisir serta tingkah laku lahiriah dari lahir sampai mati.
Edler mengartikan kepribadian adalah gaya hidup individu, atau cara yang karekteristik  mereaksinya seseorang terhadap masalah hidup dan termasuk tujuan tujan hidup.
Jung mengartikan kepribadian dalah integrasi dari ego ketidak sadaran pribadi, ketidaksadaran kolektif, kelompok, akvitf akvitif…… 
Freud mengartikan kepribadian adalah integrasi dari ide, ego dan super ego.     
Jadi pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan pernyataan atau istilah yang digunakan menyebut tingkah laku seseorang yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya dari sudut filsafat dikemukakan pendapat, yang dikutip oleh Jalaluddin. Menurut William Stern kepribadian adalah suatu kesatuan yang banyak (Unita Multi Complex) yang diarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu dan mengandung sifat-sifat khusus individu, yang bebas menentukan dirinya sendiri. Sedangkan Prof Kohnstamm, menentang William Stern yang meniadakan kesadaran pada pribadi terutama kepada Tuhan. Menurut Kohnstamm; Tuhan merupakan pribadi yang menguasai alam semesta. Dengan kata lain kepribadian sama artinya dengan teistis (keyakinan). Orang yang berkepribadian menurutnya ialah orang yang berkeyakinan ketuhanan.[4] Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa dalam pandangan filsafat kepribadian diidentikkan dengan kepercayaan terhadap Tuhan dan keagamaannya.
Jadi yang dinamakan kepribadian muslim adalah susunan dan kesatuan unsur-unsur akal dan jiwa seorang muslim yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap orang muslim tersebut.                                                                                        
  1. Pendekatan dalam psikologi kepribadian
a)      Pendekatan tipologis
Pola kerja pendekatan tipologis adalah berdasarkan sejumlah kecil kategori yang dapat memedakan ciri ciri khas individu yang satu dengan yang lain dengan melakukan pengolongan (deskripsi) individu menjadi beberapa tipe. Adapun tipe itu antara lain keadaan jasmani, system nilai, tempramen dan system system lain.
b)      Pendekatan pensifatan
Pola kerja pendekatan pensifatan ini adalah berdasarkan pada anggapan bahwa variabel yang dapat dipakai untuk menunjukkan ciri ciri khas seseorang itu sangat banyak, sehingga orang berusaha membuat deskripsi selengkap mungkin mengenai seseorang, namun dalam prakteknya fariabel itu tidak terbatas jumplahnya.
c)      Pendekatan factorial
Pola kerja pendekatan factorial ini adalah pertama dibuat hipotesis bahwa ada sejumlah faktor yang mendasari tingkah laku individu yang banyak macamnya
  1. Struktur kepribadian muslim
Sigmund Feud merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga sistem. Ketiga sistem itu dinamainya id, ego dan super ego. Dalam diri orang yang memiliki jiwa yang sehat ketiga sistem itu bekerja dalam suatu susunan yang harmonis. Segala bentuk tujuan dan gerak geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok. Sebaliknya kalau ketiga sistem itu bekerja secara bertentangan satu sama lainnya, maka orang tersebut dinamainya sebagai orang yang tak dapat menyesuaikan diri.
1.      Das es (the Id), sebagai suatu sistem id mempunyai fungsi menunaikan prinsip kehidupan asli manusia berupa penyaluran dorongan naluriah.
2.      Das Ich (the ego), merupakan sistem yang berfungsi menyalurkan dorongan id ke keadaan yang nyata.
3.      Das veber ich (the super ego), sebagai suatu sistem yang memiliki unsur moral dan keadilan, maka sebagian besar super ego mewakili alam ideal. Tujuan super ego adalah membawa individu ke arah kesempurnaan sesuai dengan pertimbangan keadilan dan moral.[5]
Dari ketiga aspek tersebut di atas, masing-masing mempunyai fungsi, sifat komponen, prinsip kerja, sifat dinamika dari sendiri, namun ketiga-tiganya saling berhubungan sehingga tidak mungkin dipisahkan pengaruhnya terhadap tingkah laku manusia.
Menurut pendapat Sukamto, sebagaimana yang dikutip Jalaluddin,  kepribadian terdiri dari empat sistem[6] yaitu:
1.      Qalb. Qalb adalah hati, yang menurut bahasa berarti sesuatu yang berbolak-balik. Sedangkan menurut istilah ialah segumpal daging yang ada dalam tubuh yang digunakan untuk merasakan yang sifatnya bisa berubah-ubah. Hal tersebut sesuai sabda Nabi; yang artinya: ketahuilah bahwa didalam tubuh manusia terdapat segumpal daging(sekepal daging), jika itu baik maka  baiklah seluruh tubuh. Kalau itu rusak maka rusaklah seluruh tubuh, itulah qalb.[7]
2.      Fuad, adalah perasaan terdalam dari hati yang sering kita sebut hati nurani (cahaya mata hati), dan berfungsi sebagai penyimpan daya ingatan. Ia sangat sensitif terhadap gerak atau dorongan hati, dan merasakan akibatnya. Kalau hati kufur, fuad pun kufur dan menderita. Dalam al-Qur’an fuad disebutkan sebagai berikut:
a.       Fuad bisa bergoncang gelisah.  Allah berfirman yang artinya:  Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa[8]. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak kami teguhkan hati- nya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).
b.      Dengan diwahyukannya Al Qur’an kepada nabi, fuad nabi menjadi teguh. Allah berfirman yang artinya: Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah[9] supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).
c.       Fuad tidak bisa berdusta. Allah berfirman yang artinya: Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.[10]
d.      Orang zalim fuadnya kosong. Allah berfirman yang artinya: Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mangangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.[11]
Orang musryk fuad dan pandangannya dibolak-balikkan. Allah berfirman yang artinya: Dan (begitu pula) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.[12]
3.      Ego, aspek ini timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Ego adalah derivat dari qalb dan bukan untuk merintanginya. Kalau qalb hanya mengenal dunia sesuatu yang subyektif dan yang obeyektif. Didalam fungsinya ego berpegang pada prinsip kenyataan.
4.      Tingkah laku. Nafsiologi kepribadian berangkat dari kerangka acuan dan asumsi-asumsi subyektif tentang tingkah laku manusia, karena menyadari bahwa tidak seorangpun bisa bersikap obyektif sepenuhnya dalam mempelajari manusia. Tingkah laku ditentukan oleh pengalaman yang disadari oleh pribadi. Masalah normal dan abnormal tentang tingkah laku, dalam nafsiologi ditentukan oleh nilai dan norma yang sifatnya universal. Orang yang disebut normal adalah orang yang seoptimal mungkin melaksanakan iman dan amal saleh di segala tempat. Kebalikan dari ketentuan itu adalah abnormal.
  1. Integrasi kepribadian muslim
Kepribadian yang terintegrasi adalah kepribadian yang sehat, yang membuat seseorang merasakan ketentraman dan kebahagian. Dimana kepribadian yang bisa mengkompromikan antara kebutuhan fisik dan kebutuhan sepiritual nya sangat mungkin dilakukan manusia itu konsisten dalam berperilaku sesuai petunjuk Allah, dan tidak berlebih lebihan dalam memenuhi satu dorongan saja[13].
Menurut Usman Najati, apibila keseimbangan antara fisik dan jiwa terealisasikan maka terealisasikan kepribadian manusia dalam  citranya yang hakiki dan sempurna, seperti tercemin pada kepribadian Rasulullah. Lebih lanjut Usman Najati mengatakan bahwa keseimbangan  antara tubuh dan man jiwa dalam kepribadian manusia adalah sebagaiaman keseimbangan yang terjadi pada alam semesta. Dengan demikian kepribadian yang terintegrasi dan serasi adalah kepribadian yang memperhatikan fisik, kesehatannya, kekuatannya dan memenuhi kebutuhan- kebutuhannya dalam batas batas yang diperkenankan agama, dan pada saat yang sama berpegang teguh pada Allah, melaksanakan berbagai ibadah, melakukan segala hal yang di ridhoi Allah, dan menghindari segala hal yang membuat Allah murka.
  1. Faktor faktor yang mempengaruhi kepribadian
Secara umum dapat dikemukakan bahwa faktor faktor yang mempengaruhi kepribadian itu dapat di perinci menjadi tiga golongan besar yaiti (b) faktor biologis, (b) faktor sosial, dan )(c) faktor kebudayaan.
a)      Faktor biologis atau keturunan.
      Fakta ilmiah yang ditemukan para ilmuan tentang bagamana fisik sifat- sifat keadaan dan keadaan yang diturunkan, secara gambling telah diturunkan dalam Al quran jauh sebelum para ilmuan melakukan penelitian. Dengan semakin canggih keilmuan manusia, semakin jelas bukti empiric dapat dimati dengan panca indra. Menurut Husain Mashari  hukum keturunan melakukan pemindahan sifat sifat batin, internal yang memimilik pembawaan moral sepiritual, yang selanjutnya berpengaruh bukan hanya terbatas pada pembentukan ciri cirri jasmaniyah lahiriah saja. Bagimanapun faktor faktor keturunan dalam membentuk kepribadian anak tidak dapat dipungkiri. Dalam Al Quran  Q.S. A-A’rAraf: 57 Allah berfirman:
      “Dan tanah yang baik, tanam tnaman nya yang subur dengan seizing Allah. Dan tanah yang tidak subur, tanam tanaman hanya akan tumbuh merana”.
      Kandungan ayat ini menurut Musain Mashari  mendekat kan hubungan rasional dari hukum turunan melalui contoh iderawi yang bergerak dan hidup. Tanah di kategorikan sebagai benda yang paling dekat dengan manusia, dapat dibagi dua macam yautu tanah subur dan tidak yang gersang dan tandus.
b)      Faktor sosial
            Faktor sosial yang dimaksud disini adalah masyarakat disekitar individu yang mempengaruhi individu tersebut. Yang termasuk dalam faktor sosial adalah tradidi, adat istiadat, dan peraturan yang berlaku dalam masyarakat.
      Dalam perkembangan individu peranan keluaga sangat menentukan sangat menentukan, karena pada lingkungan keluarga sangat menentukan kepribadian anak selanjutnya. Hal ini disebabkan karena:
a.       Pengaruh itu merupakan pengalaman yang pertama tama.
b.      Pengaruh yang diterima anak itu masih terbatas jumlahnya dan luasnya.
c.       Intensitas pengaruh itu tinggi karena berlangsung terus menerus siang malam.
d.      Umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana aman dan sifat intim dan bernada emosional.
Pada selanjutnya pengaruh lingkungan sosial diteriman anak semakin besar luas, mulai dari lingkungan keluarga meluas pada anggota keluarga yang lain, teman yang datang kerumahnya, fteman sepermainan dan sebagainya. Demikian pengaruh faktor sosial terhadap perkembangan kepribadian yang terima oleh individu dalam hidup dan kehidupannya sehari hari sejak kecil sampai dewasa. Dalam Al Quran Q.S al-Araaf 173-174 Allah berfirman:
Dan (inggatlah), ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak anak
adam dari sulbi mereka dan mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfiman): “Bukan kah aku ini tuhanmu? “Mereka menjawab “ Betul (Tuhank kami), kami akan menjadi saksi”. ( kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kami tidak mengatakan: “ sesungguhnya kami bani adam adalah oaring orang yang lenggah terhadap in (keesaan tuhan)”, atau agar kami tidak mengatakan: “sesungguhnya orang orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedangkan kami adalah anak anak keturunan yang datang sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang orang yang sesat dahulu?”  
Ayat ini mengandung maksud: agar orang orang musrik itu jangan mengatakan bahwa bapak bapak mereka dahulu telah mempersekutukan Tuhan itu salah, tak ada lagi jalan bagi mereka, hanyalah meniru orang orang tua mereka yang mempersekutukan Tuhan itu. Karena itu mereka menganggap bahwa mereka tidak patut disiksa karena kesalahan mereka.
c)      Adat kebiasaan
Adat kebiasaan yang dimaksud disini adalah perbuatan yang disertai kemauan sendiri tanpa adanya dorongan dari pihak lain. Hal ini merupakan salah satu ciri kepribadian seseorang yang kadang-kadang tidak dimiliki oleh orang lain, hal ini ada yang bersifat baik dan bersifat buruk. Adat kebiasaan yang baik selalu tercermin dalam setiap perilaku seseorang, sebagai misal ialah seseorang, suka menolong orang lain dalam kerusuhan, saling mengadakan silaturahmi dalam hati raya idul fitri, dan suka menjenguk teman dalam keadaan sakit. Sedangkan adat kebiasaan yang buruk juga selalu nampak pada seseorang yakni ketika seseorang berbuat, misalnya orang yang selalu suka menghasut bila melihat teman yang kontra dengan teman lainnya karena hal ini sudah merupakan kebiasaan dirinya. Oleh karena itu, nampak perilaku seseorang yang memberikan corak tersendiri dalam kehidupannya khususnya umat Islam.
  1. Macam-macam kepibadian Muslim
   Setiap muslim harus mempunyai kepribadian yang Islami. Maka, pada diri setiap muslim tentulah harus ada macam-macam kepribadian yang menggambarkan keislaman. Kepribadian tersebut antara lain:
1.      Shalat (Ibadah)
Shalat merupakan tiang agama siapa yang menegakkan shalat beraerti menegakkan agama dan siapa yang merusak shalatnya berarti merobohkan agamanya. Peristiwa besar yaitu “isro’ mi’roj” Nabi Muhammad SAW, perintah shalat tidak melalui malaikat Jibril, melainkan langsung di sidratul muntaha.
Dari pernyataan di atas dapat diambil pengertian tentang shalat, yaitu: Berharap hati kepada Allah sebagai ibadah yang diwajibkan atas tiap-tiap orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Berupa perbuatan/perkataan dan berdasarkan atas syarat-syarat dan rukun tertentu yang dimulai dengan bacaan ”takbir” dan diakhiri dengan ”salam”.21
Sedangkan dasar-dasar yang menunjukkan adanya kewajiban shalat adalah:
a.       Surat al-Ankabut ayat 45
...أَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ...
”Kerjakanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.”
b.      Surat Al-Baqarah ayat 43
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ (43)
”Dan dirikanlah shalat dan keluarkanlah zakat, dan tunduklah / ruku’ bersama-sama orang yang ruku’”.
Setelah kita tahu secara eksplisit dari definisi shalat, maka hendaklah perintah shalat itu ditanamkan kedalam jiwa dan hati anak didik dengan menggunakan pendidikan yang cermat, serta dilakukan sejak anak-anak masih kecil.
2.      Akhlak Personal
Tandensi akhlak tersebut adalah:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15)
Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[14]. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.(14) Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (15)(Q.S. Luqman/31:14-15)

Dalam akhlak personal ini, keluarga mempunyai kewajiban sebagai berikut:
a.       Memberi contoh kepada anak dalam berakhlak mulia. Sebab orang tua yang tidak berhasil menguasai dirinya tentulah tidak sanggup meyakinkan anak-anaknya untuk memegang akhlak yang diajarkannya. Maka sebagai orang tua harus terlebih dahulu mengajarkan pada dirinya sendiri tentang akhlak yang baik sehingga baru bisa memberikan contoh pada anak-anaknya.
b.      Menyediakan kesempatan kepada anak untuk mempraktikkan akhlak mulia. Dalam keadaan bagaimanapun, sebagai orang tua akan mudah ditiru oleh anak-anaknya, dan di sekolah pun guru sebagai wakil orang tua merupakan orang tua yang akrab bagi anak.[15]
c.       Memberi tanggung jawab sesuai dengan perkembangan anak. Pada awalnya orang tua harus memberikan pengertian dulu, setelah itu baru diberikan suatu kepercayaan pada diri anak itu sendiri.
d.      Mengawasi dan mengarahkan anak agar selektivitas dalam bergaul. Jadi orang tua tetap memberikan perhatian kepada anak-anak, dimana dan kapanpun orang tua selalu mengawasi dan mengarahkan, menjaga mereka dari teman-teman yang menyeleweng dan tempat-tempat maksiat yang menimbulkan kerusakan.[16]

3.      Akhlak Sosial
Di samping akhlak personal, seorang muslim juga harus memiliki akhlak sosial. Sesuai dengan ayat 18 surah Luqman, ketika terjun di masyarakat, seorang muslim dilarang untuk bertingkah laku dengan sombong dan berjalan dengan angkuh seolah-olah hanya ia yang mempunyai ilmu pengetahuan. Dalam ayat tersebut terdapat larangan memalingkan muka, memalingkan muka ini mempunyai arti mencibirkan mulut ketika berbicara,[17] dengan maksud menghina. Larangan berakhlak tercela tersebut dapat diberlakukan secara umum dengan istilah yaitu takhalli, yaitu membersihkan diri dari sifat-sifat tercela.
Adapun sifat yang tercela yang harus dihilangkan tersebut adakalanya maksiat batin antara lain riya (memamerkan kelebihan), sama’ (cari nama atau kemasyhuran), bakhil (kikir), hubbul mal (cinta harta yang berlebihan), namimah (berbicara dibelakang orang) dan lain sebagainya. Dan juga yang merupakan maksiat lahir, ialah segala perbuatan yang dikerjakan oleh anggota badan manusia yang merusak orang lain atau diri sendiri, sehingga membawa pengorbanan benda, pikiran perasaan. Maksiat lahir, melahirkan kejahatan-kejahatan yang merusak dan mengacaukan masyarakat.
Karena anak dilarang untuk berakhlak tercela, maka anak diharuskan berakhlak mulia, dengan menghiasi dirinya dengan akhlak mulia atau tahalli. Jadi seorang anak harus berakhlak yang baik dimana setiap orang yang memandang menjadi senang kepadanya. Orang yang berakhlak baik itu adalah orang yang sempurna imannya. Hal itu sesuai dengan hadits berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
Artinya: Paling sempurnanya orang mu’min imannya yaitu yang paling budi pekertinya, dan pilihanmu adalah pilihanmu kepada wanita mu’min yang budi pekertinya baik [18]
Orang yang berakhlak mulia tersebut dikatakan orang yang sempurna imannya, karena ia tidak pernah menyakiti orang lain, dan hal itu merupakan implikasi iman dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu, maka seorang muslim  diperintah untuk menyederhanakan cara berjalan dan bersuara dengan lunak. Hal tersebut jika dipahami dalam koridor akhlak merupakan perintah agar seseorang berakhlak mulia dan rendah diri dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu, seorang anak juga apabila terjun ke masyarakat harus mengikuti peraturan atau norma-norma kemasyarakatan yang berlaku dan tidak menyimpang dari ajaran Islam.[19]
Penerapan akhlak mulia atau mahmudah tersebut antara lain dengan cara menebarkan salam kepada sesama muslim dan bersedekah kepada orang yang tidak mampu. Hal ini sesuai dengan hadits:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
Artinya: Dari Abdullah bin Amr, sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, Mana Islam yang paling bagus itu? Nabi bersabda: pemberianmu makanan dan pengucapanmu salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal [20]
Dari hadits di atas, dapat dipahami bahwa orang yang paling mulia atau sempurna keislamannya adalah orang yang berakhlak mulia dan menghormati sesama muslim yaitu dengan mengucapkan salam baik kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal.
Demikian garis besar pembagian kepribadian muslim yang mampu penulis ungkap. Sebenarnya masih banyak pembagian kepribadian yang lain menurut peneliti dan ahli lain.

BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Kepribadian muslim adalah susunan dan kesatuan unsur-unsur akal dan jiwa seorang muslim yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap orang muslim tersebut.
2.      Terdapat beberapa pendekatan dalam psikologi yaitu yaitu tipologis, pensifatan dan faktorial
3.      Pada dasarnya kepribadian terdiri dari 3 bagian, yaitu Id, ego dan super ego.
4.      Terdapat 3 faktor yang mempengaruhi kepribadian muslim, yaitu faktor keturunan, budaya, sosial
5.      Macam-macam kepribadian muslim terbagi menjadi 3, yaitu ibadah, akhlak personal dan akhlak sosial.


DAFTAR RUJUKAN
Abdullah, Islam dan Kajian Sains, Surabaya: Al-Ikhlas, 1994.

Al-Bukhari, Muhammad, Shahih al-Bukhari, juz 1, Mauqi’u al-Islam: Dalam al-Maktabah al-Syamilah, 2005

Al-Mawardi, Abu al-Hasan, al-Nukat wa al-'uyyun, juz 3, Mauqi'u al Tafasir: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Al-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, juz 4, Mauqi'ul Islam: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Alwisol, Psikologi Kepribadian, Malang: UMM Press,2005.

Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.

Mahjudin, Membina Akhlak Anak, Surabaya: Al-Ikhlas, 1985.

Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Mufarakah,  Anisatul, "Pendidikan Dalam Perspektif Luqman al-Hakim: Kajian Atas QS: Luqman ayat 12-19", dalam Ta'allum Jurnal Pendidikan Islam Vol.18.No.01, juni 2008, 11.

Muslim, Shahih Muslim juz 1, Mauqiu al-Islam: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah.

Najati, M. Utsman, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, terj. Ahmad Rofi’I Utsmani, Bandung: Pustaka, 2000.

Qohar, Mas’ud Khasan Abdul, Kampus Ilmiah Populer, Surabaya: Bintang Pelajar, tt.

Sobur, Alex, Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah, Bandung: Pustaka Setia, 2003.

Soeryosubroto, Soemadi, Psikologi Kepribadian, Yogyakarta: Raka Sorosin, tt.

Sujanto, Agus, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Aksara Baru, 1992.




[1] Dpertemen pendidikan dan kebudayaan, kamus besar bahasa Indonesia,( balai pustaka Jakarta 1990)
[2] Alwisol, Psikologi Kepribadian, (Malang: UMM Press,2005), 8.
[3] Chaplin J.P Kamus lengkap psikologi, terjemahan, Kartini kartono, (Rajawali Pres, Jakarta . 1995)
[4] Ibid., 162.
[5] Ibid., 172. Lihat juga Soemadi Soeryosubroto, Psikolog Kepribadian, (Yogyakarta: Sarsin, tt), 169. lihat juga Sobur, Psikologi Umum..., 302-303.
[6] Ibid. (Psikologi Agama), 173.
[7] Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam Muhammad al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, juz 1, (Mauqi’u al-Islam: Dalam al-Maktabah al-Syamilah, 2005), 90 . hadits aslinya adalah
وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
[8] Setelah ibu Musa menghanyutkan Musa di sungai Nil, Maka timbullah penyesalan dan kesangsian hatinya lantaran kekhawatiran atas keselamatan Musa bahkan hampir-hampir ia berteriak meminta tolong kepada orang untuk mengambil anaknya itu kembali, yang akan mengakibatkan terbukanya rahasia bahwa Musa adalah anaknya sendiri. Q.S. al-Qhashas/28:10.
[9] Maksudnya: Al Quran itu tidak diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur agar dengan cara demikian hati nabi Muhammad s.a.w menjadi Kuat dan tetap. Q.S. al-Furqan/25:32.
[10] ayat 4-11 menggambarkan peristiwa Turunnya wahyu yang pertama di gua Hira.  Q.S. al-Najm/53:11
[11] Q.S. Ibrahim/14: 43.
[12] Q.S al-An’am/6: 110.
[13] Erhamwilda, konseling islam, (Graha Ilmu yogyakarta, 2009) hal 34
21 Abdullah, Islam dan Kajian Sains, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1994), 163
[14] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.
[15] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), 272.
[16] Ibid., 173.
[17] Abu al-Hasan al-Mawardi, al-Nukat wa al-'uyyun, juz 3, (Mauqi'u al Tafasir: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005), 336.
[18] Al-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, juz 4, (Mauqi'ul Islam: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005), 390. hadits no. 1082.
[19] Anisatul Mufarakah, "Pendidikan Dalam Perspektif Luqman al-Hakim: Kajian Atas QS: Luqman ayat 12-19", dalam Ta'allum Jurnal Pendidikan Islam Vol.18.No.01, juni 2008, 11.
[20] Muslim, Shahih Muslim juz 1, (Mauqiu al-Islam: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah) 147, hadits no. 56.
Poskan Komentar